Selasa, 17 November 2015

Ini Keutamaan Surah Al Ikhlas, Baca 3 Kali Sebelum Tidur

Seperti halnya Al Fatihah, Surah Al Ikhlas sangat akrab dengan kehidupan umat Islam segala lapisan. Tidak ada muslim yang tak hafal dengan surah yang pendek itu.

“Keutamaannya sangat luar biasa, makna Surah Al Ikhlas ini mewakili nilai keimanan yang terkandung dalam Alquran,” ujar Ustad H Imansyah, ulama di Banjarmaisn yang pernah belajar agama di Hadramaut, Yaman, ini Selasa (21/7/2015).
Pada acara Halalbihalal Keluarga Besar Pagustian di Banjarmasin, Ustad Imansyah menyebutkan, Surah Al Ikhlas yang juga dikenal dengan qulhuallah, baik untuk diamalkan sebagai bacaam sebelum tidur.
“Tiga kali membaca surah ini makna ketauhidannya mewakili kandungan Alquran,” ujarnya.
Seorang sahabat pernah menyatakan setiap malam khatam Alquran, ternyata hanya dengan membaca tiga kali surah Al Ikhlas, karena setiap membacanya bermakna kandungan ketauhidan sepertiga Alquran.
“Mendengar itu Rasulullah tersenyum, tidak menolaknya,” ujar ulama ini.

Usai Membaca Surah Al-Fatihah, Tiba-tiba Air Sumur Meluap Sampai ke Permukaan

BANJARMASINPOST.CO.ID - DIRIWAYATKAN bahwa ada surah yang sampai di tangan Rasulullah SAW yang mengharuskan beliau membubuhkan tanda (semacam tanda tangan). Saat itu, Nabi SAW berada di samping sebuah sumur. Saat beliau ingin melepas cincinnya untuk memberikan tanda di surah tersebut, tiba-tiba cincin beliau jatuh ke sumur itu. Orang-orang yang berada di tempat itu kini menjadi bingung dan menunggu apa yang akan dilakukan Nabi SAW. Lalu beliau berkata, “Katakanlah kepada Ali, hendaklah ia datang kemari!” Orang-orang pun memanggil Sayyidina Ali dan mengatakan kepadanya bahwa Nabi SAW memerlukannya sehingga Ali pun datang. Kemudian Nabi SAW berkata, “Wahai Ali, cincinku jatuh di sumur ini. Aku harap kau bisa mengeluarkannya karena engkau penyelesai problema.” Sayyidina Ali pun mendekati sumur tersebut dan kemudian membaca Surah Al-FatihahTiba-tiba air sumur itu meluap dan sampai ke permukaan sumur. Sayyidina Ali dengan begitu mudah mengambil cincin Nabi, menciumnya dan memberikannya kepada Rasulullah SAW. (Sumber: Zikir Al-Fatihah By Muhammad Alcaff, Pengasuh Meditasi Spiritual Tapak Sunan)

Majelis Talim al Hidayah Gelar Pameran Pedang Nabi


BANJARMASINPOST.CO.ID, KANDANGAN - Pameran bendan-benda bersejarah peninggalan Rasullulah dan sahabat yang dilaksanakan Majelis Ta'lim Al-hidayah Kapuh Madani Desa Kapuh Kecamatan Simpur berlangsung dari Rabu (25/3/2015) sampai Minggu (5/4/2015) mendatang, Setidaknya ada sebanyak 35 item benda bersejarah milik rasullulah dan sahabat nabi yang dipmerkan dalam pameran pedang nabi kali ini. 

Pimpinan Ponpes Ibnu Atha'illah KH Muhamad Ridwan atau lebih akrab dipangging Guru Kapuh menuturkan, benda-benda bersejarah peninggalan Rasulullah dan sahabatnya yang dipamerkan tersebut, diataranya Pedang dan Sendal Nabi Muhammad SAW bahkan ada juga tongkat Nabi Musa AS.

Disampaikannya, Namun, benda-benda bersejarah peninggalan Rasulullah dan sahabatnya tersebut hanya revlika yang menyerupai yang aslinya.

Diungkapkannya, benda-benda bersejarah peninggalan Nabi tersebut, didatangkan langsung dari Turki yang berkeliling wilayah Indonesia. "Kabupaten HSS tujuan yang ke-40 ," ujarnya.

Dikatakannya, pameran benda-benda bersejarah peninggalan Rasulullah yang digelar oleh Majelis Ta'lim Al-hidayah ini, adalah untuk penggalangan dana untuk pembangunan Madrasah Iptidaiyah (MI) Ibnu Attaillah.


Langgar Ampel di Banjarmasin ini Memiliki Sejarah yang Misterius

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Musala ini tak begitu terkenal di Banjarmasin, namun namanya cukup unik, yaitu Langgar Ampel. Alamatnya di Jalan Pahlawan RT 7, Kelurahan Seberang Masjid, Kecamatan Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Sekilas menimbulkan pertanyaan, mengapa ada kata Ampel di namanya. Apakah ada hubungannya dengan daerah bernama Ampel di Surabaya atau bahkan dengan Sunan Ampel yang merupakan satu di antara sembilan Wali Songo yang berkubur di Ampel, Surabaya, Jawa Timur? Namun ternyata setelah ditelusuri tak ada hubungannya sama sekali. Musala ini berusia sangat tua. Warga sekitar tak ada yang mengetahui pasti soal usia musala atau langgar ini karena kebanyakan adalah pendatang. Namun seorang mantan pengurusnya yang merupakan tetua kampung tersebut, Kaspul Anwar mengatakan musala ini sudah lama ada sebelum dia dilahirkan pada 1947 silam. Sebelumnya, musala ini pernah dipindah dua kali karena memakan badan jalan. "Pemindahan ketiga ketika saya sudah dewasa, hingga sekarang posisinya di jalan tersebut," katanya. Soal sejarah namanya, dia mengaku tak begitu mengetahuinya. Dia hanya mendengar sekilas kisah-kisah dari para orang tua di kampungnya saat dia masih kecil. "Konon, dulu di kampung ini ada seseorang bernama Datuk Ampel. Entah dia itu siapa, apakah ulama atau tokoh kampung sini atau mungkin pendiri awal musala ini sehingga langgar ini dinamai menggunakan namanya, saya tidak tahu dan tak pernah bertanya juga kepada orangtua atau kakek nenek saya. Yang jelas, Datu Ampel itu berkubur di dekat musala ini," paparnya. Sekarang, kuburannya sudah tidak ada. Seingatnya, saat dia masih kecil, kuburan itu masih ada dan diberi kain kuning oleh warga setempat. "Kalau kuburannya diberi kain kuning, dalam adat orang Banjar berarti orang tersebut semasa hidupnya adalah tokoh yang disegani warga, orang terhormat. Masalahnya, di generasi kampung ini yang sekarang, sosok Datuk Ampel itu seakan misterius, nggak ada yang kenal, hanya tinggal nama saja jadi nama musala," tuturnya.

Senin, 16 November 2015

Order segera koko terbaru....



Tersingkapnya Kewalian abah Guru Sekumpul

Habib Muhammad Ba'bud (lawang malang) berkata"Siapa yang hendak melihat Rasulullah Saw,maka pandanglah Guru Zaini"
·                     Habib Ahmad Alhabsyi (banjarmasin) berkata "bila ingin melihat sunnahnya Rasulullah dengan jelas maka lihatlah perilaku Abah Guru Sekumpul kerena setiap sunnah Rasulullah yang belau ketahui selalu dikerjakannya.
·                      Habib Ahmad baraqbah (bangil) sewakttu bertemu dengan Abah Guru berkata "ente min Aulia Allah hingga ucapan berulang-ulang 3 kali.
·                     Habib Ahmad bin Muhammad Assegaf (semarang) seorang wali majzub saat bersalaman pada Waktu Abah Guru Sekumpul waktu muda ,beliau berseru kepada ulama yang ada ada"Cium tangan Zaini," "ini kutub cilik" ini qhutub cilik".
·                     Tuan Guru Zainal ilmi(dalam pagar-Martapura)berkata kepada nenek abah guru Sekumpul yiatu salbiyah pada waktu abah Guru masih kecil "Pellihara puun.(pelihara yang baik) dengan ber ulang-ulang drumah ada seorang wali besar ..
·                     K.H. Hamid (pasuruan) sewaktu menyambut kedangan Abah Guru Sekumpul yang showan kepada K.H Hamid berkata "Gebernur kalimantan-Gebernur kalimantan" dengan berteriak kegirangan artinya waliyullah dari kalimantan.
·                     Abah Anom sang waliyullah berkata sewaktu pesuruh Abah Anom datangkerumah Abah Guru kata Abah Guru Sekumpul "Abah Anom adalah lautan ilmu tariqat"lalu diceritakan oleh pesuruh Abah Anom perkataan Abah Guru Sekumpul kepada abah Anom dan Abah anom berkata "Guru Zaini Adalah lautan ilmu".
·                     Habib Ahmad bin Abu Bakar Alhabsyi (basirih-banjarmasin) seorang wali majzub berkata " ente Waliyullah  ente Waliyullah   ente Waliyullah  "sambil mengguncang2 pundak Guru Sekumpul yang disaksikan oleh Guru Asmuni (ghuru Danau dan H.Khurdi.
·                     KH.Syarwani Abdan Albanjari (Bangil)salah satu Gurunya Abah Guru Sekumpul berkata Zaini ini sekarang pada berada dalam tingkatan kewalian sebagaimana yang disebutkan dalam kitab tashauf.sedangkan muridnya yang gila itu sebab ketulahan/durhaka kepadanya,ini sewaktu Abah Guru Sekumpul dituduh mengajarkan ilmu sesat.
·                     Habib Ahmad Assegaf (Hadralmaut)pernah berkata"sir dan madad Tarim berpindah ke Sekumpul".
Syukur yang tak terhingga ya Allah engkau memberikan nikmat hidup yang sejaman dengan salah satu wali mu yang kamipun banyak mengambil manfaat darinya.
jangan putus nikmat ini ya Rab sehngga kami bisa berkumpul kembali dengan Walimu y Guru Sekumpul dan salah seorang kecintaanmu dan kekasihmu Rasulillah Muhammada Rasulullah saw.
Murabbi ruhina wa mursyidina bahr ilm wa fahm quthubul fardani wa alim shamadani Syeh Muhammad Zaini Abdul Ghani di surgamu kelak.  Ya arhamar rahimin ..Ya Mujibas sa'ilin... Amiin


suber di ambil dari postingan ayakim di sebuah grup pencinta abah Guru Sekumpul dan sedikit kami tambahkan beberapa yang kami ketahui... 
mudah-mudahan bermanaat dan menambah kcintaan kita kepada wali-waliyullah khususnya Abah Guru Sekumpul.


Baju Gamis Pria Terbaru...


'Mimpi Abah Guru Sekumpul pada waktu kecil''


suatu malam, abah guru mendapatkan mimpi, merasakan seolah-olah berada disebuah padang pasir, sejauh mata memandang hanya sahara yang membentang, dari kejauhan tampak fatamorgana seperti genangan air, meski sebenarnya hanyalah biasan cahaya matahari.

Tegak di samudera pasir yang luas, seperti sebuah keajaiban yang muncul di tengah- tengah misteri ketidakpastian. Tidak mungkin rasanya bangunan tersebut milik salah satu suku Arab, lantas, kenapa hanya ada satu, di mana yang lainnya?, bila ternyata bangunan itu milik seorang musafir, lalu kenapa terlihat berdiri kokoh, menyiratkan bahwa ia adalah sebuah tempat tinggal untuk jangka waktu yang tidak sebentar?.

Langkah kaki Abah Guru terhenti manakala
jarak yang tersisa antara dia dan bangunan itu hanya tinggal beberapa langkah, siapa pemilik bangunan, apakah dia sedang berada didalam, sebuah pertanyaan menyelimuti benaknya. Tiba-tiba di tingkat atas muncul seorang wanita Arab, yang meskipun busananya tertutup namun kecantikannya memancar menembus sekat- sekat bernama kain, melemparkan sesuatu kepada Abah Guru , Abah Guru memungut benda itu sambil hatinya bertanya-tanya. Namun keheranannya itu tidak membuatnya surut untuk terus melangkah. Ditengah semesta diamnya, yang mengitari pikirannya. Abah guru tiba-tiba dikejutkan oleh sebuah goncangan, bumi yang dipijak terasa bergetar.. Abah Guru tersentak, apa yang terjadi, suara apa itu, dari mana asalnya?, berbagai pertanyaan muncul tanpa rekayasa.

Abah Guru yang keheranan terus melangkahkan kakinya, sampai tidak jauh dari bangunan itu dia bertemu dengan dua orang pemuda, tegap, tampan, bahkan sangat
tampan. Pemuda pertama yang lebih tua, terlihat penuh kharisma sekaligus menunjukkan kesantunan yang menyentuh relung hati setiap orang yang memandangnya, sementara yang lebih muda,
nampak kekar bagai seorang mujahid, yang setiap saat siap menghadapi berbagai tantangan, sosok pria pemberani tergambar jelas dari raut mukanya.

Abah gurupun akhirnya terlibat dialog dengan kedua orang tersebut, sampai akhirnya..
“Kamu, kami berikan gelar Zainal Abidin”.

Abah Guru terdiam, Zainal Abidin …. sebuah gelar yang pernah mengukir sejarah, yang bahkan kebakaran di rumahnya sendiri tidak sanggup mengusiknya dari ibadah, dialah Sayyidina Ali Zainal Abidin, satu- satunya putera Sayyidina Husein sang Syahid Agung, yang selamat dari pembantaian di medan Karbala, putera Sayyidatina Fathimah az-Zahra; puteri Rasulullah SAW. Dialah orang pertama yang menyandang gelar Zainal Abidin; perhiasan cantik para ahli ibadah, karena ‘abid yang manapun, dari belahan bumi manapun, akan tertunduk
malu bila berhadapan dengan catatan sejarah hidupnya, hanya dengan kisah tentang ibadahnya… apalagi kalau bertemu dan melihat langsung bagaimana asyiknya dia bersama Rabb-nya.

Abah Guru mungkin merasa malu, bagaimana tidak? Karena gelar tersebut bukan sembarang gelar, gelar adalah gambaran dari orang yang menyandangnya dibahunya, arti hakiki dari gelar tersebut, pertanda apa sehingga dia mendapatkan anugerah sebesar ini.

Saat ia merenung, ia melihat tanah yang berada di samping bangunan tersebut tiba- tiba bergerak laksana gelombang air laut. Kemudian Abah Guru bertanya kepada keduanya :

“Kenapa bumi tadi bergetar?” ucapnya.
“Itu adalah makam ayahanda, Ali Ibn Abi Tholib”

Abah Guru bertanya lagi kepada mereka berdua tentang perempuan yang melempar sesuatu kepadanya tadi :

“Kalau perempuan yang diatas bangunan tadi?”,
“Ibunda Fathimah” jawab mereka berdua.

Jawaban itu menjadi tafsir yang menguak tabir misteri ketiga orang ini. Yah, karena ketiga manusia yang mengundang kekaguman itu adalah al-Bathul; Sayyidatina Fathimah, sang pemuka para wanita surga, al-Hasan dan al-Husein, dua pemuda penghulu sorga, cucu dan pendingin mata Baginda Rasulullah SAW. Mereka adalah tiga orang ahlul kisaa , yang mengiringi turunnya ayat Tathir dalam surah al-Ahzab :
ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻳُﺮِﻳﺪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟِﻴُﺬْﻫِﺐَ ﻋَﻨﻜُﻢُ ﺍﻟﺮِّﺟْﺲَ ﺃَﻫْﻞ
‎ﺍﻟﺒَﻴْﺖِ ﻭَﻳُﻄَﻬِّﺮَﻛُﻢْ ﺗَﻄْﻬِﻴﺮ
mereka adalah ahlu bait-nya Musthofa SAW.

Sebuah mimpi yang teramat indah, yang mungkin didambakan semua muhibbin ahli bait-nya Rasulullah SAW. Mimpi yang merupakan sebuah pertanda baik atau bisyarah untuk seorang hamba Allah yang sedang meniti jalan hidupnya menuju sebuah “kehambaan” yang sebenarnya, kedudukan yang paling tinggi di hadapan Sang Penguasa Semesta, Pencipta jagat raya, Allah SWT.

Meski Abah Guru mendapat bisyarah, mimpi bertemu dengan orang-orang mulia itu, namun dia tidak pernah menceritakan mimpi itu kepada siapapun, semua tetap mengendap dalam otaknya. Hingga suatu saat diceritakan oleh Guru Marzuki saat bertemu dengan Zaini di sebuah acara. Guru Zuki, begitu panggilan beliau, melemparkan pertanyaan yang membuat Zaini terkejut.

“Ikam wayah ini bangaran Zainal Abidin kah?” (Kamu sekarang ini bernama Zainal Abidin kan?) tanya Guru Zuki.
Zaini hanya diam, pertanyaan ini mengingatkannya pada mimpi yang dialaminya itu.
“Ada kalu ikam tamimpi?” (Bukankah kamu ada bermimpi?) sambung Guru Zuki. Zaini hanya menunduk, ternyata ulama yang
satu ini tahu perihal mimpinya, padahal sebelumnya dia tidak pernah bercerita kepada siapapun tentang mimpi itu.